Lost your password?
  • narrow screen resolution
  • wide screen resolution
  • fluid screen resolution
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • style1 color
  • style2 color
  • style3 color

Institut PTIQ Jakarta

Member Area

Newsflash

Home News Dies Natalis Dan Wisuda Sarjana 2009
Dies Natalis Dan Wisuda Sarjana 2009

Jakarta, 6 Mei 2009

Memantapkan Program Akademik Dan Membenahi Fisik. Institut PTIQ Jakarta merayakan ulang tahunnya (Dies Natalis) yang ke-38 dan Wisuda Sarjana yang ke-13 pada hari Rabu, 29 April 2009 di Jakarta Convention Center (JCC) Jl. Gatot Subroto Jakarta. Pada perhelatan besar dua tahunan itu Perguruan tinggi yang mendedikasikan dirinya untuk studi Al-Qur’an ini mewisuda 185 sarjana, yang terdiri dari 120 sarjana S1 dan 65 sarjana S2 (master) dari beberapa fakultas/prodi. Di antara wisudawan program S1 terdapat 66 wisudawan yang hafizh Al-Qur’an 30 juz, dan selebihnya ”hafal terbatas” beberapa surah setara 5 juz. Wisuda kali ini dihadiri sekitar 700 orang yang terdiri dari segenap anggota senat Institut PTIQ Jakarta, pengurus Yayasan Pendidikan Al-Qur'an (YPA), para sesepuh PTIQ, para tamu undangan, para dosen, karyawan, para alumni, dan para orang tua wisudawan.

Dalam acara Dies Natalis dan Wisuda ini Rektor Institut PTIQ Jakarta, Prof. Dr. Nasarudin Umar, MA menyampaikan laporan perkembangan Institut dua tahun terakhir. Ketua Dewan Pendiri Yayasan, H. Pontjo Sutowo juga memberikan sambutan dan pesan-pesan. Tampil sebagai nara sumber dalam orasi ilmiyah Duta Besar Belanda, Dr. Nikolaos van Dam. Pada pembukaan acara Ust. Mu'ammar ZA, alumnus PTIQ, mengalunkan Kalam Ilahi yang membuat suasana khusyu' dan hikmat. Kemudian diberikan pula penghargaan kepada para mantan rektor Institut PTIQ Jakarta atau keluarganya yang diserahkan oleh Ibu Hj. Zalekha Ibnu Sutowo. Acara ini juga menjadi sarana silaturrahmi dengan para tokoh yang memiliki hubungan dekat dengan Institut PTIQ antara lain Direktur Diktis Depag, Prof. Dr. Mahasin sekaligus mewakili Menteri Agama, Gubernur DKI Jakarta, diwakili Deputy Drs. H. Margani Mustar, Msi, ketua Kopertais Prof. Dr. Badri Yatim, anggota DPRD DKI, KH. Yusuf Hamdani, ketua MUI DKI, KH. Mundzir Tammam, dan tokoh-tokoh lainnya.

Perkembangan Positif

Dalam pidatonya, Rektor Institut PTIQ menyampaikan berbagai perkembangan menggembirakan, karena PTIQ telah menjalankan peran akademik-ilmiyahnya dengan baik. Hal ini ditunjang pula oleh pembenahan sarana terutama pembangunan fisik. Di bidang pendidikan dan pengajaran, Institut PTIQ semakin meneguhkan keunggulannya terutama pada bidang kajian Al-Qur’an. ”Salah satu prestasi yang patut disyukuri adalah dibukanya Program Megister Konsentrasi Ulumul Qur’an, kelas internasional dengan pengantar bahasa Arab, yang diikuti oleh para dosen dari berbagai perguruan tinggi Islam di seluruh Indonesia atas bantuan beasiswa dari Departemen Agama”, demikian ungkapnya.

Mengenai upaya perbaikan mutu pendidikan, Rektor PTIQ yang juga Dirjen Bimas Islam Depag ini mengungkapkan bahwa Institut PTIQ melakukan penyempurnaan kurikulum, peningkatan akreditasi dari BAN PT, pengembangan sarana perpustakaan dan penyediaan jaringan internet bagi dosen dan mahasiswa.”Hal lain yang patut disyukuri bahwa untuk pertama kali Institut PTIQ memiliki guru besar bukan jalur PNS, yaitu Prof. Dr. M. Darwish Hude, M.Si”, tambahnya.

Selain itu, Institut PTIQ juga mendorong dan menfasilitasi kajian-kajian Al-Qur’an, penelitian serta penulisan karya-karya ilmiyah seputar studi Al-Qur’an seperti penyusunan tafsir, tafsir tematik, pentashihan mushaf, ilmu qira’at dan sebagainya. Salah satu yang fenomenal adalah kegiatan penelitian berupa penelusuran dan pentahqiqan karya-karya klasik ulama Nusantara abad 16-19. Selama dua tahun berturut-turut Institut PTIQ dipercaya oleh Depag untuk melakukan Program Tahqiq al-Kutub Karya Ulama Nusantara. Kitab-kitab para ulama asli Indonesia dalam bahasa Arab yang masih berupa naskah kuno tulisan tangan (manuskrip) yang ditahqiq antara lain karya Imam Nawawi Banten, Kyai Mahfudz Termas, Kyai Ikhsan Jampes, Kyai Soleh Darat, Kyai Sayid Usman Betawi, Syaikh Abdussomad Al-Falembani, Syaikh Syamsuddin Al-Sumatrani, dan Syaikh Idrus Qoimuddin Al-Butoni-- kini sebagian telah diterbitkan dalam bentuk kitab yang mudah dibaca dan dipelajari, dan sebagian masih dalam proses pengeditan akhir untuk kemudian dicetak dan didistribusikan.

Dalam pidato yang padat ini, Rektor juga mengungkap peran lain yang cukup menonjol yang dimainkan PTIQ yakni pengabdian masyarakat. Menurut beliau, Institut PTIQ telah identik dengan amal nyata di masyarakat, baik secara institusi maupun individual. Mahasiswa maupun para alumni Institut PTIQ dikenal sebagai para penghidmah ulung pada bidang dakwah khususnya ke-Al-Qur’anan. Mereka terjun langsung mendampingi ummat mendalami Al-Qur’an. Selain itu, mereka menerbitkan buku-buku tentang pedoman dasar membaca Al-Qur’an dan tahsinul qira’at agar ummat bisa membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar dan lagu yang baik. Secara kelembagaan Institut PTIQ juga melakukan serangkaian pelatihan bagi para imam dan khatib, serta terlibat dalam event-event Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) baik sebagai pelatih, pembimbing, dewan hakim, dan peserta. Selain itu, pengabdian masyarakat dalam bentuk aksi-aksi solidaritas sosial juga dilakukan para mahasiswa dan alumni Institut PTIQ.

Perkembangan lain yang patut disyukuri segenap keluarga besar Institut PTIQ Jakarta adalah pembangunan sarana gedung. Saat ini, asrama mahasiswa twin block berlantai lima yang terdiri dari 96 kamar dengan kapasitas 400 mahasiswa sedang dibangun. RUSUNAWA (Rumah Susun Sewa) bantuan Departemen Pekerjaan Umum ini berlokasi di asrama lama dan siap dioperasikan bulan Agustus 2009. Selain asrama Institut PTIQ juga sedang membangun gedung tambahan berlantai tiga untuk program Pasca Sarjana. Pembenahan ini dilakukan mengingat minat mahasiswa yang semakin bertambah. Bahkan kini terlihat adanya peminat dari Malaysia, Brunei, Thailand, dan Timor Leste sebagaimana terungkap dari kunjungan lembaga-lembaga di negara tetangga itu. Juga pada bulan Juli – Agustus 2008 Institut PTIQ telah diundang untuk Pameran Iternasional di Brunei Darussalam dan pada saat yang sama para qari PTIQ tampil pada MTQ Kebangsaan Malaysia di Negeri Kedah Darul Aman.

Peran Ke-Islaman PTIQ

Institut PTIQ, keluarga besar dan para alumninya diharapkan menjadi kekuatan yang mandiri, memiliki integritas tinggi dan berjuang untuk mewujudkan negara dan bangsa yang maju, berdikari, berperadaban mulya serta mengembangkan Islam yang rahmatan lil-alamin. Islam adalah ajaran yang mendorong terjadinya dinamika kehidupan sosial, ekonomi , politik dan budaya dalam masyarakat dunia. Demikian dikemukakan H. Pontjo Sutowo dalam pidato singkatnya.
Oleh karena itu, lanjut putra pendiri Institut PTIQ ini, Islam harus menyediakan diri bergulat dan mengarahkan perubahan ke arah kehidupan yang adil dan damai. Dalam kerangka ini pemikiran Islam harus didorong untuk terus terlibat dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal. Sebab, sejatinya selain mengedepankan toleransi, kerendahan hati, saling menghormati, serta mendorong keharmonisan sosial, Islam juga memuliakan kebudayaan manusia yang lahir dari kecenderungan fitrahnya yang hanif, atau sifat ketaqwaan yang lahir dari setiap pribadi muslim. Seorang muslim merupakan khalifah fil ardl, yang bertanggungjawab menyuarakan dan menjaga kepentingan bersama, seperti melindungi kelestarian alam, memakmurkan bumi, memelihara kemerdekaan bangsa-bangsa dan menghormati hak-hak asasi umat manusia.

”Dari sinilah, kehadiran para intelektual dan sarjana Muslim, termasuk para wisudawan Institut PTIQ, diharapkan bisa merumuskan rencana aksi untuk bisa mengembangkan dan mengaktualisasikan kualitas ketaqwaannya sebagai penerus misi kenabian yang rahmatan lil alamin, guna membangun kebudayaan dan peradaban mulia ummat manusia di dunia”, tegasnya.

Dalam suasana Dies Natalis dan Wisuda yang meriah itu para wisudawan, keluarga dan tamu undangan juga diberi kenang-kenangan berupa buku, Jurnal Al-Burhan terbaru dan sebuah VCD Profil PTIQ Jakarta karya mahasiswa Fakultas Dakwah. (MIR)

 

On This Page